Senin, 17 September 2012

1000-100 >> (cerpen)



“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurku…”
Sejenak Rima menoleh kearah suara kecil itu, sesosok anak laki-laki berperawakan kurus membawa kencringan, dia bernyanyi sambil sesekali memejamkan mata kecilnya disamping angkutan umum yang kini sedang di naiki Rima. Rasa iba segera menggerayangi hati kecilnya, andai tidak sekedar uang recahan yang bisa diberikan pada anak itu, tapi nyatanya Rima juga tidak mempunyai yang lebih dari itu.
Rima memutuskan untuk turun dari angkutannya, membawa anak kecil yang menenteng kencringan itu menepi kearah jembatan layang, anak itu terlihat sedikit bingung tapi tetap mengikuti langkah Rima.
“nama kamu siapa dek?” Tanya Rima membuka percakapan saat mereka sudah mulai duduk ditepian terotoar.
“saya Jailani Kak, tapi nama keren saya Joy Kak” anak itu menjelaskan dengan tersenyum seakan dia selalu bahagia, padahal jelas kulit tangannya yang hitam karena terbakar matahari menceritakan betapa keras hidupnya.
“oh! Hay Joy, kenalkan namaku Rima” kata Rima sambil menyalami tangan anak yang duduk disebelahnya itu.
“Kak Rima?”
“iya… kamu bisa memanggilku seperi itu… Joy apa kamu masih sekolah?” tanya Rima kemudian, sejenak Joy terdiam seperti berpikir, senyum diwajahnya sekejap menghilang seerti tertelan dalam bisingnya kendaraan yang berlalu lalang
“seharusnya memang begitu Kak, tapi keluargaku tidak punya cukup biaya lagi untuk menyekolahkanku”
“kenapa hasil ngamen kamu itu tidak kamu gunakan untuk sekolah saja?”
“gak cukup Kak, sudah cukup buat makan saja sudah bagus” Rima terdiam mendengar jawaban Joy, dia berpikir memang sangat sulit hidup dikota besar seperti ini, jangakan Joy dirinya sendiri saja kadang hanya makan dua kali sehari untuk lebih menghemat biaya bulanannya. Orang tua Rima pun bukan orang yang berada, mereka hanya petani yang mempunyai mimpi besar untuk anak-anaknya agar hidup lebih layak.
“Kak?” Joy mulai sadar kalau Rima sedari tadi melamun.
“Joy, apa banyak teman-teman kamu yang bernasib sama seperti kamu?”
“banyak Kak, malah banyak yang belum pernah sekolah sama sekali, aku ini sudah termasuk beruntung”
“apa mereka masih ingin sekolah?” mendengar pertanyaan Rima yang satu ini Joy tersenyum getir.
“Kakak ingin membantu kita? Sudah banyak yang berjanji seperti itu Kak, tapi sampai sekarang mereka itu tidak pernah kembali kesini” jawaban Joy seakan bisa membaca isi hati Rima, mebuat Rima terhenyak sesaat.
“selama kalian punya mimpi, jangan biarkan mimpi itu padam… Joy, Kakak tidak berjanji untuk menolong kalian, tapi Kakak akan berusaha sebisa Kakak untuk menolong kalian, Kakak juga bukan dari keluarga kaya raya, tapi Kakak bisa seperti ini karena Kakak punya mimpi” mendengar kata-kata itu Joy tersenyum, dimata anak itu sekilas Rima bisa melihat mimpi yang membara.
Joy berjalan menjauhi Rima, dalam benaknya terukir sejuta mimpi yang pernah hancur dan kini perlahan-lahan dia bangun kembali, walaupun tidak sepenuhnya dia mempercayai kalau seorang Kakak yang baru saja dia temui itu akan mewujudkan mimpinya. Perlahan dia mulai memainkan kencringannya dan kembali, menyandar pada sebuah mobil angkutan umum, kembali bernyanyi diatas dunia yang sungguh terasa sangat keras bagi anak seumurannya.

            Hari ini jam kuliah baru saja selesai, tapi Rima masih terdiam diatas kursinya, perlahan dia menyelipkan satu lembar uang seribuan kedalam amplop putih. Sudah dua minggu ini dia mengisi amplop itu dengan lembaran uang seribu, dia menyisihkan seribu setiap harinya, paling tidak itu yang mampu diberikan Rima untuk menolong si Joy dan teman-temannya, walaupun Rima masih tidak tau akan digunakan untuk apa uang itu. Kelas sudah sepi, diluar pun sudah mulai gelap saat Rima menyusuri pelataran parkir kampusnya,
“tiiiinnn…” suara klason mobil sport dari arah belakang Rima, membuat Rima harus menggeser langkahnya agar mobil itu bisa lewat dengan leluasa
“andai orang-orang seperti mereka sudi berbincang dengan anak-anak seperti Joy, mungkin nasib Joy dan teman-temannya akan lebih baik. Tapi apa mungkin mereka mau membantu??” batin Rima sambil menghela nafas, sebenarnya Rima pun sudah tau jawaban dari pertanyaan yang ada dibenaknya itu, tapi Rima lebih tertarik untuk kembali melanjutkan langkahnya.

            Dua bulan kemudian, Rima mempercepat langkahnya, dia menyusuri jalan disepanjang jalan dimana dia pertama kali bertemu Joy, dia bertanya pada pemuda-pemuda jalanan yang juga duduk disana, tapi sampai anak kelima yang dia tanyai tak ada satupun yang tau keberadaan Joy.
“Kakak cari Bang Joy?” tanya seorang anak kecil yang kira-kira masih berumur lima tahun.
“iya… kakak cari dia, adek tau Abang Joy dimana?” Tanya Rima sambil sedikit membungkukkan badannya kearah anak itu dan anak itu pun mengangguk.
“antar Kakak ketempat Abang bisa?” anak kecil itu mengangguk lagi kemudian sampai akhirnya  dia berjalan menyusuri pekarangan yang cukup besar dan Rima mengikutinya dari belakang.
“itu Bang Joy” kata anak kecil itu sambil menunjuk kearah sebuah gundukan tanah yang masih merah dengan batu nisan yang bertuliskan “jailani”. Kaki Rima bergetar hebat mendapati apa yang sedang dilihatnya sekarang.
“Joy meninggal…” bisik Rima lirih dengan suara bergetar, setetes air mata keluar dari matanya, dia seret langkahnya mendekat kearah nisan Joy.
“Joy… apa Kakak terlambat?” batin Rima
“Joy meninggal satu minggu yang lalu, dia kena Demam berdarah dan terlambat mendapat pertolongan” kata sumber suara disamping Rima, ternyata ada seorang anak laki-laki, sepertinya seumuran dengan Joy berdiri tepat disamping Rima.
“nama kamu sapa dek?” Tanya Rima sambil mengulurkan tangannya
“Satrio” jawab anak itu singkat
“nama Kakak, Rima” kata Rima sambil tersenyum pada anak yang bernama Satrio itu
“Kak Rima?” anak itu bertanya seakan-akan pernah mengenal Rima sebelumnya.
“iya… apa kamu kenal sama Kakak?”
“sebelum Joy meninggal, Joy pernah bercerita tentang Kakak pada kami”
“oh ya? Apa yang diceritakan Joy?”
“Joy bilang ada seorang Kakak yang akan menolong kita. Selama ini Joy yang menolong kita Kak, dia membantu kita belajar, dia membuatkan kita tempat yang cukup nyaman untuk bisa belajar bersama, dia seperti pahlawan kita” mendengar apa yang dikatakan Satrio barusan membuat darah Rima seketika berdesir, Joy dengan keadaan seperti itu ternyata bisa membantu teman-temannya sampai seperti itu, sedang dia yang bisa dibilang berkecukupan masih belum mampu berbuat apapun.
“bisa tunjukan dimana tempat kalian belajar biasanya?” Tanya Rima, Satrio pun mengangguk dan mulai membawa Rima menyusuri perkampungan sempit padat penduduk. Sampai akhirnya langkah mereka terhenti pada sebuah gubuk yang sepertinya kosong, Rima memasuki gubuk kecil itu, cuma ada satu pintu disana dan dua jendela yang hanya ditutup dengan kayu tipis, dua tikar bekas tergelar dilantai itu.
“jadi disini biasanya kalian belajar?” Tanya Rima sambil mencoba membersihkan tikar disamping dia berdiri dan Satrio hanya mengangguk sambil tetap berdiri di dekat pintu.
“besok sore bisa kamu kumpulkan lagi teman-teman kamu disini? Kakak tidak bisa berjanji untuk membantu banyak tapi Kakak akan berusaha sebisa mungkin membantu kalian”
“iya Kak! Besok akan aku kumpulkan lagi teman-teman disini” ada senyum sumringah dibalik jawaban Satrio itu, membuat Rima semakin yakin kalau langkahnya kali ini yang paling benar.

            Sore setelah jam kuliahnya selesai, Rima bergegas menuju gubuk tempat dia akan bertemu dengan anak-anak dengan semangat tinggi untuk belajar, untuk mewujudkan cita-cita indah mereka. Dengan senyum indahnya, Rima membuka pintu gubuk itu. Ternyata disana ada sekitar sembilan anak yang sedang menunggu kedatangannya.
“selamat sore semuanya” sapa Rima dengan senyumnya yang mengembang, suasana pun jadi lumayan riuh digubu kecil itu.
“Kakak bisa minta tolong, bagaimana kalau sebelum belajar hari ini kita bersihkan tempat ini dulu?”
“iya Kak” jawab mereka serentak dengan nada riang. Kemudian mereka pun mulai menyapu lantai yang terbuat dari semen itu, Rima juga berusaha membuka jendela yang tertutup kayu agar udara dalam gubuk itu tidak terlalu pengap.
Setelah dirasa cukup bersih Rima menyuruh mereka semua agar duduk rapi diatas tikar yang sudah lusuh.
“pertama-tama kita perkenalan dulu, nama Kakak Rima, kakak masih kuliah dan Kakak punya mimpi besar untuk membantu mewujudkan mimpi kalian semua. Sekarang gantian kalian ya satu per satu kenalkan diri kalian didepan.” Kata Rima sambil setelah itu mulai duduk diatas tikar.
Mereka mulai memperkenalkan diriya masing-masing, ternyata benar mereka ada Sembilan orang termauk Satrio. Terlihat jelas dari mata mereka terpancar harapan yang sangat terang. Dan dari sinilah mereka kembali merajut impian mereka. Satrio yang hidup sebatang kara, Tini yang memunyai banyak sekali adik yang masih kecil, Dina dengan kakinya yang cacat, Dila yang harus membantu neneknya yang sudah sangat tua, sedangkan Salsa, Ika, Harun, Malik, dan Faris tidak perah sama sekali merasakan bangku sekolah. Kini mereka ada di tempat itu untuk bersama-sama mewujudkan mimpi mereka tentang kehidupan yang lebih layak suatu saat nanti. Rima sendiri hanya bisa tersenyum haru mendengar celoteh mereka, generasi bangsa yang hampir tertelan kejamnya kota metropolitan. Rima sadar jalannya masih panjang untuk membantu mereka, dia berharap nanti akan banyak keajaiban yang datang diantara mereka.

            Tiga tahun berlalu, Rima berjalan menuju gubuk kecil tempatnya berbagi ilmu dengan teman-teman kecilnya, disela-sela langkah cepatnya Rima menyelikan uang seribu dalam amplop putihnya. Rima bersyukur usahanya tidak sia-sia karena ada saja teman-temannya yang kadang juga memberikan sumbangannya dan anak-anak setiap harinya mengumpulkan seratus rupiah tiap anak untuk ditabung.
“Kak Rima… aku dapat juara satu” teriak Salsa sambil keluar dari gubuk dan memeluk Rima dengan erat, gadis kecil itu sekarang sudah kelas 1 SD. Kemudian suasana pun semakin riuh karena semuanya berebutan menunjukkan raportnya pada Rima, ya… semuanya akhirnya bisa kembali bersekolah.
“Kak aku juga dapat juara 1” teriak Satrio sambil berusaha menerobos teman-temannya agar Rima bisa lebih jelas lagi melihat nilai-nilainya yang bagus.
“sudah ayo semua duduk dulu, Kakak jadi bingung ini harus liat pnya siapa dulu” setelah mereka duduk rapi Rima mulai berkeliling untuk melihat raport mereka satu per satu.
“Kakak bangga sama kalian semua, kalian tidak cuma hebat tapi juga pinter-pinter. Kakak harap kalian bisa mempertahankan prestasi kalian dan tentunya Bang Joy yang hanya bisa melihat kita dari surga pasti tidak kalah bangganya dengan Kakak disini melihat kalian bisa seperti ini” kata Rima dengan mata berkaca-kaca.
Uang bukanlah hambatan untuk mewujudkan mimpi, karena dimana ada keyakinan dan kerja keras disana pasti ada jalan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar